Posting Rental Komputer Pertama
Saya iseng posting di milis, tanya siapa yang pertama kali berbisnis rental komputer di Indonesia (sebelum 1984), karena sebelum jamannya warnet, usaha rental komputer itu menjamur dimana-mana, terutama di daerah kampus.
Di Bogor, yang banyak rental komputernya di daerah Darmaga dan di belakang Internusa, dengan biaya yang sudah sangat terjangkau, mulai dari Rp 500,- per jam-nya.
Sampai hari ketiga, belum ada yang me-respon membuka usaha rental komputer di tahun 1984, dan respons yang ada kebanyakan membuka memori lama, sampai akhirnya saya ketemu lagi dengan “orang-orang lama” di japri atau di milis.
Kebiasaan “ngecer” atau “ngeteng” ini merupakan perwujudan dari ketidak mampuan bangsa Indonesia untuk melakukan sesuatu secara utuh, beli rokok “ngeteng”, pakai komputer “ngeteng”, bayar pulsa telepon “ngeteng”, demikian dengan akses Internet yang “ngeteng” melalui warnet.
Dengan pola “ngeteng” ini pula, banyak pengusaha yang dapat sukses, misalnya perusahaan telekomunikasi, pemakaian kartu prabayar konon lebih besar dibanding paska bayar, karena dengan “ngeteng”, kita mengeluarkan uang sedikit-sedikit, walaupun akhirnya mungkin sama atau lebih besar dari yang paska bayar.
Perusahaan rokok juga banyak mendapat keuntungan dari kebiasaan “ngeteng” ini, terutama membuat komunitas warung-warung di pinggir jalan, yang akhirnya meningkatkan ekonomi kerakyatan. Sewaktu saya di Sudan, banyak pedagang rokok di pinggir jalan, tetapi mereka menjual rokok berdasarkan bungkus, minimal 5 batang satu bungkus, dan tidak ada yang jual “ngecer” satu batang (silakan lihat dokumentasi saya di Sudan di tahun 2003 –> http://www.sunggiardi.com/michael/sudan/page-07.htm).
Berbeda dengan orang Amerika yang punya dasar selalu mau kredit, orang Indonesia selalu mau membagi sesuatu menjadi bagian yang paling kecil, sehingga harganya murah dan terjangkau. Akibatnya, bisnis di Indonesia kebanyakan “nyari murah” tanpa memikirkan yang lain.
Segi positif dan negatif dari kebiasaan “ngeteng” ini mestinya dicari jalan kelur, karena dengan pola kebiasaan yang sudah tertanam beberapa generasi ini, sepertinya kita dapat membuat satu solusi win-win buat mereka semua.
Rental komputer, warnet, RT-RW-Net merupakan solusi “cespleng” di bidang teknologi informasi, dan kita tunggu lagi solusi “ngeteng” lainnya yang sesuai dengan kebiasaan bangsa Indonesia.
Bogor, 14 Oktober 2007